Minggu, 09 Desember 2007

Be Legal..

Tenang dengan Software Legal


Ketika hendak mencari Laptop di Mangga Dua, banyak sekali pada penjual komputer dan laptop yang memajang dagangannya berikut dengan sistem operasinya. Tentunya sistem operasi yang digunakannya adalah bajakan karena itu barang second.

Satu minggu kemudian kembali melewati toko tersebut dan ternyata semua Laptop yang ada sudah kosong tanpa sistem operasi didalamnya, setelah ditanya ternyata sedang ada razia software disana. Bisa dibayangkan bagaimana pembeli hendak akan mencoba komputer atau laptop yang akan dibeli tanpa sistem operasi didalamnya. Apalagi jika yang hendak dibeli itu adalah barang second.

Untungnya saya membawa live cd linux ubuntu dan pclinuxos. Saya dapat mencoba apa yang akan dibeli apakah dapat berfungsi dengan baik walau itu di linux. Namun memang itu yang dicari karena saya memang tidak menggunakan OS lain selain linux yang tentunya harus mencari hardware yang memang full linux support.

Sekilas dari perihal diatas memang sangat disayangkan bahwa masyarakat kita masih kurangnya kesadaran akan nilai suatu software, apakah software itu gratis atau berbayar..??

Namun memang tidak dapat dipungkiri juga kalau angka perekonomian negara kita masih rendah jika dibandingan negara lain. Sehingga masyarakat masih enggan jika hanya untuk membeli software yang asli. Bisa dibayangkan jika semua software yang dibeli harus asli tentunya hal itu memakan biaya yang lebih mahal dari harga komputer yang dibelinya.

Seharusnya para pembuat software tersebut juga harus mengerti dimana dia menjual barang?, bagaimana perekonomian di negara tersebut apakah mampu jika harus membeli barang tersebut..??

Lalu harus bagaimana menyikapi itu semua??? jawabannya adalah dengan mencoba software alternatif yang tersedia cuma-cuma, memang tidak sebagus dan selengkap yang berbayar namun saat ini software tersebut seperti linux sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan komputerisasi yang ada.

Hal ini tentunya harus didukung oleh semua lapisan masyarakat pengguna komputer. Baik itu dari pemerintahan, kalangan pendidikan, maupun umum. Memang kita dituntut mau tidak mau untuk belajar lagi menggunakannya. Namun anggap saja itu sebagai sarana agar kita tambah pintar dan tidak ketergantungan lagi dengan software berbayar jika kita tidak mampu membelinya. Sehingga tidak ada alasan lagi untuk membajak.

Apakah kita akan dihantui terus dengan razia software???

Sebagai orang yang berkecimpung dengan komputer tentunya kita tidak ingin berurusan dengan hukum karena hanya menggunakan software bajakan. Kemana-mana membawa laptop untuk bekerja maupun hanya sekedar gaya tetapi tidak tenang... Takut jika sewaktu-waktu ada razia software yang dipakainya.

Saat ini untungnya razia tersebut baru kepada para pedagang, maupun kantoran saja. Bagaimana jika razia tersebut sampai kerumah-rumah? Atau sampai ke laptop atau notebook yang kita bawa saat kita jalan di mall maupun sedang tugas kerja?? Sangat mengerikan bukan..? Namun bisa saja hal tersebut terjadi.

Semua keputusan ada ditangan anda semua..

(Write in Nokia E61 and edited by Openoffice 2.3 on Ubuntu)

Dony Ramansyah
site : http://dony-ramansyah.bravehost.com
blog : dony-ramansyah.blogspot.com
Registered linux user : ID 400171

1 komentar:

mif mengatakan...

kalu aye masih bisa tenang pake Windows. pan ada license agreement Microsoft corp. dgn kampus ITB. bayar lisensi cuman 10rb untuk satu tahun.

btw. kenek 46 yg nyariin ane namenye siape? sok tau nt neh...